Posted by: rinnugraha on: March 15, 2011
“Jadi sebetulnya, bagian produksi ingin mengutamakan keunggulan produk yang terjamin aman konsumsi, Mas, buat bayi. Soal revisi di bagian target market itu… Kami memang nggak muluk-muluk mau langsung launching komersil. Promosi antar Posyandu justru bisa menarik……
Dinda terus berbicara. Mengklarifikasi bagian demi bagian dari berkas produksi produk terbaru perusahaan kami yang direvisi oleh Pak Bos Marketing. Hampir semuanya ia jelaskan. Wanita yang gigih sekali!
Sementara aku hanya tersenyum dan sesekali mengangguk-angguk karena tersihir oleh gaya bicara Dinda. Aku pikir Dinda hanya ingin makan siang saja, dengan obrolan ringan dan kasual. Yaaah, bisa dibloang sejenis kencan. Bukannya membahas soal kerja dan kerja. Tapi tak masalah. Melihatnya berbicara, tatapan matanya yang cemerlang, gerak-gerak tangannya ketika menjelaskan, kepalanya yang agak miring ke kanan setiap saat ia berpikir atau mengingat-ingat sesuatu. Sungguh mempesona dilihat makhluk keturunan Hawa di hadapanku ini. Belum lagi saat ia mengunyah makanan, lesung pipinya terlihat timbul tenggelam. Caranya minum, dengan memegang gelas menggunakan kedua tangannya. Manisnya…
“Gimana menurut Mas Ori?” Dinda tersenyum dan menatap lurus ke arahku seraya menyelipkan poni rambutnya ke belakang telinga. Lalu tangannya ia simpan ke atas meja, memangku dagu, menunggu responku.
“Eh? Emm…” Aku kaget dan bingung memilih kalimat yang akan ku ucapkan. “Sebetulnya, kamu bisa bahas semua itu nanti di rapat koordinasi, Din, atau mungkin ke Pak Bos langsung. Sebenarnya aku… aku, cuma orang di belakang layar aja…”
Dinda tersenyum dan mengelap mulutnya dengan tisu. ”Justru itu. Mas Ori kan orang di balik layar, berarti ’otak’nya marketing dong. Tepat banget saya ngomong sama Mas. Nanti Mas bisa mem-floor-kan ini di internal marketing dulu sebelum dibawa ke rapat koordinasi.”
Aku melongo. Eh, bener juga ya? Apa yang udah aku omongin tadi? Ya memang tugas ’orang balik layar’ untuk mengolah pembahasan hasil revisi kan? Adoh… Antara keliatan nggak nyimak atau malah keliatan begonya nih…
“Udah beres, Mas? Balik ke kantor yuk…”
”Eh, iya, iya… Udah, udah… Yuk, yuk…” Aku jadi terlihat kikuk. Dinda pasti berpikir, ’Nggak qualified banget sih looo! Diajak diskusi kok ya angguk-angguk doang!’. Hancur sudah. First impression yang gagal.
Aku dan Dinda berjalan ke arah gedung kantor. Aku sengaja memilih jalan sebelah kiri, jalan menuju gedung Produksi. Niatnya sih mau mengantar Dinda balik ke ruangan kerjanya. Biar masih dianggap cowok yang baik dan bertanggung jawab deh, biarpun poin kapasitas otak sudah turun jauh ke bawah.
Suara klakson mobil terdengar dari arah belakang. Kijang Innova hitam melintas dan berhenti di sampingku. Pak Bos.
”Ori! Saya tunggu di kantor sekarang ya. Tadi ada yang terlewat.”
Dan Pak Bos melaju ke parkiran gedung Marketing.
Aku berhenti. Sial. Lagi enak-enak jalan sama Dinda, ada aja yang interupsi.
”Err… Din…”
”Boleh dong, gantian berkunjung ke Marketing?” sela Dinda dengan antusias.
”Eh? Mau… mau ikut?”
”Nggak boleh ya?”
”Eehh… Ayo, ayo…”
Aku dan Dinda sampai di depan ruangan Pak Bos saat Pak Bos juga baru saja akan masuk ke ruangannya. Pak Bos menoleh ke arah Dinda dan melihat amplop berkas yang barusan aku antarkan.
”Meja aku yang deket jendela, Din. Tunggu…”
”Saudari Dinda ya?” kali ini Pak Bos yang menyela ucapanku. ”Silakan… Kebetulan sekali ada perwakilan dari Produksi. Jadi tidak perlu menyampaikan ulang ke gedung seberang…”
Pak Bos tersenyum dan membuka pintu. Dinda mengangguk sopan dan mendahului masuk ke dalam. Dasar, jarang-jarang Pak Bos senyam-senyum begitu. Laki-laki memang, suka sekali menarik perhatian perempuan cantik.
”Jadi, pertama-tama saya ingin tahu mengenai progress report Marketing…” Pak Bos memandang aku sekilas lalu memandang Dinda, ”Sekaligus Produksi…”
Aku mengangguk-angguk. Lagi. Tapi kali ini disertai jawaban yang cukup panjang lebar. Laporan kemajuan. Bisa kena semprot nanti kalau aku kasih respon kosong seperti di hadapan Dinda barusan. Lalu Dinda menimpali dan sempat menyinggung soal beberapa hal yang ia bicarakan tadi saat makan siang, serta hal-hal yang sudah bidang Produksi siapkan.
Pak Bos termenung sambil manggut-manggut.
”Baik. Sepertinya kalian sudah banyak membahas. Kalau begitu, berkaitan dengan tim inti yang perlu dibentuk demi kelancaran pengerjaan produk ini, saya tunjuk kalian berdua sebagai Koordinator masing-masing Departemen untuk bekerjasama.”
Apa?! Koordinator Departemen?! Berat kali! Selama ini aku belum pernah memegang jabatan apapun. Hanya sebatas staff saja. Dinda pun tampak terkejut, tapi perempuan itu tenang sekali. Keringat dingin merembes di bagian belakang kemeja. Aku ketar-ketir.
”Setuju?” tanya Pak Bos. Konfirmasi. ”Setelah ini saya segera hubungi atasan Produksi mengenai penunjukkan kamu, Dinda.”
”Aahh… Eeuuu…Sa…Saya…” Aku gugup.
”Saya siap, Pak.” ujar Dinda tegas. ”Saya pasti bisa banyak belajar dari pengalaman Ori menangani produk terutama pemasarannya dan saya yakin Ori bisa jadi rekan kerja yang kooperatif.”
Ah… Aku terhenyak. Dinda… Perempuan cantik itu baru saja memujiku. Ada debar jantung yang mendadak memenuhi rongga dadaku. Semangat baru. Motivasi baru. Rekan kerja baru… dan… Kesempatan baru untuk meraih status baru? Ah, siapa tahu…
***
Posted by: akubilangcinta on: March 6, 2011
Hari senin, hari yang membosankan, lebih-lebih untuk mengawali pekerjaan dengan mengurus berkas yang beratnya setumpuk. Huh.
Aku dan komputer sudah mulai kencan bersama dari pagi hingga menjelang siang. Bermesraan. Daritadi jemariku meraba-raba bagian dari komputer.
Hingga sekarang, tinggal sedikit lagi.
Sedikit lagi jam istirahat tiba.
Yes..!!
Yes!!!
Yeaaahh!!!!
Saat itu pula, si Bos datang menghampiri, dan,
“Ori, tolong antarkan berkas ini ke Dinda di bagian produksi. Jangan lupa jelaskan tentang koreksi di pemetaan pasar.”
Baiklah. Bos memang tau benar caranya merusak mood. Aku dongkol, berang. “Baik Pak..”
Kemudian si Bos beranjak pergi. Pastilah untuk makan siang. Padahal belum jam 12. Cih.
Baiklah.
Kini aku beranjak dari komputer, kencan akan dilanjutkan sehabis mengantarkan berkas ini sekaligus makan siang.
Aku berjalan ke gedung seberang, ke bagian produksi, setengah berlari.
Perutku sudah melilit meronta meminta makan. Jadi sebaiknya tugas ini kulakukan secepat mungkin.
Begitu tiba di bagian produksi, aku tersadar sesuatu. Berkas ini untuk Dinda. Dinda siapa ya? Dinda yang mana? Ah, alamat lama nih kalau begini.
Dari dalam gedung mulai terlihat para karyawan bagian produksi berjalan ke arah luar untuk istirahat makan siang. Aku melangkah sambil celingukan mencari siapapun orang yang kukenal, tapi nihil. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya ke salah seorang karyawan yang kutemui di tikungan sebelum koridor.
“Emm, Mas, Dinda yang mana ya?”
“Oh, Dinda. Itu, di cubicle ke dua.” Dan orang itu langsung melengos pergi.
Aku melangkah menuju cubicle yang dimaksud. Tunggu. Cubicle ke berapa tadi? Ke dua? Tunggu. Sepertinya penghuni cubicle itu adalah seseorang yang pernah kulihat sebelumnya. Seorang perempuan yang sedang serius berkutat dengan komputernya, mengetik pekerjaan.
Seorang wanita terlihat melintas di hadapan cubicle ke dua itu dan menyapa si perempuan. “Dinda! Nggak istirahat kamu? Makan bareng yuk…”
“Lagi tanggung, Mbak. Duluan aja nggak apa-apa…” jawab Dinda halus.
Aku sudah berada di samping cubicle Dinda sekarang. Lebih tepatnya hanya berselisih satu atau dua meter dari tempat Dinda duduk.
Dinda, wanita berkacamata, rambut hitamnya diikat ke atas, dengan kemeja putih, rok dan blazer dengan warna yang sama, abu-abu. Pipinya tak kemerahan, hanya putih, berkilau, bibirnya lah yang memerah seperti wanita lain kebanyakan.
Selagi sibuk memperhatikan, Dinda menoleh, menyapaku, dan mungkin melihat aku dan gelagat anehku.
“Selamat Siang, um. Ada yang bisa saya bantu?” Dinda tersenyum setengah bingung ke arahku.
Kontan aku yang daritadi sibuk memperhatikan Dinda menjadi bingung harus menjawab apa. Aku hanya bergerak maju tanpa suara, dan menyodorkan berkas.
“Anu, uhh.. ini, koreksi.. itu.. ehh..” Aku hanya terbata, bicara seperti jangkrik.
Dinda kebingungan, “Iyaa??”
Aku mencoba menghilangkan ketegangan ini dengan berdehem keras. “EHM, ini, ada berkas dari Pak Bos, tapi di bagian pemetaan ada sedikit revisi, dari hasil presentasi kamu kemarin kayanya.”
Dinda mengambil berkas itu, sibuk membolak-balikkannya. Raut wajahnya tampak kebingungan melihat revisi sebanyak itu. Apalagi aku membuat revisi itu tidak sebegitu rapi.
“Um. Din.” Belum selesai aku ingin menjelaskan bagian rumit dan berantakan itu, Dinda memotongnya.
“Ori, nama kamu Ori kan?? Gimana kalo kita makan siang bareng?”
Ha? Dia tau namaku dari mana?? Eh, apa tadi?? Makan siang bareng?? Yakinn?? Akhirnya, ada perempuan cantik seumuran yang ngajak makan siang bareng?? Serius??! YEAAAAAAAAAAHHH!!
Aku begitu gembira dan meluap, aku berucap, “Ah, baiklah. Kayanya aku nggak sibuk. Mungkin bisa.”
Padahal dalam hati, gembira luar biasa.
Siang itu pun, menjadi siang yang bahagia. Sebelum kembali berkencan dengan komputer, anggap saja ini kencan betulan dengan seorang perempuan…
***
Posted by: akubilangcinta on: March 6, 2011
Drrrttt… Drrrttt…
Mataku terbuka dengan berat. Ada yang bergetar di samping bantal. Tanganku meraba-raba dan meraih ponsel yang telah semena-mena merusak mimpiku. Huh, ini pasti alarm jam 5 subuh. Gampang lah, tinggal tekan tombol ‘snooze’. Aku memicingkan mata dan melihat sekilas ke layar ponsel yang berbayang. Ternyata bukan alarm, melainkan satu pesan masuk. Oi, jgn lupa minggu ini nikahan si Adam. Brg ye, ajakin anak2 yg lain skalian.
Tunggu. Laki lain ada yang nikah lagi? Dari sekian banyak laki yang awalnya senasib sepenanggungan, laki yang hanya berteman guling di malam, sekarang hanya tinggal aku? Damn.
Aku menghela nafas dan mengintip sekali lagi ke layar ponsel. Ha? Sudah jam 8 kurang 5??! Sial! Ada meeting koordinasi antar departemen jam 8. Itu artinya cuma tersisa lima menit menuju kantor!! Argh!! Aku beranjak dari tempat tidur, mengganti baju, dan pergi tergesa-gesa. Tanpa mandi dan sikat gigi. Peduli amat.
Sepanjang jalan aku sibuk bolak-balik melihat jalan-jam, jalan-jam. Kali ini hitungan waktu benar-benar membuatku repot. Sesampainya di tempat parkir, aku berlari terburu-buru ke ruang meeting. Sesampainya di depan ruang meeting, bisa kurasakan pintu hitam di hadapanku mendingin dan membiru, suara halus terdengar dari dalam. Dan ya, aku terlambat. Bisa kurasakan semua mata memandang tepat ke arahku ketika ku berjalan pelan memasuki ruangan. Dan, ya, aku lupa memakai dasi. Aku hanya bisa meminta maaf dan melangkah salah tingkah ke salah satu kursi kosong di samping Bernard.
Aku langsung membuka bahan-bahan presentasi di atas meja dan berusaha mengikuti sampai dimana meeting ini berjalan. Wanita di depan tengah berbicara sambil menunjukkan slide tentang produk terbaru perusahaan kami. Aku bertanya pada Bernard, siapa wanita asing itu. Anak baru di bagian produksi, katanya. Aku berusaha memperhatikan. Wah. Isi presentasinya bagus, cara penyampaiannya menarik, dan wanita itu terlihat sangat percaya diri untuk ukuran seorang anak baru. Ia menjelaskan produk baru tersebut dengan cara yang berbeda, dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya berorientasi profit bagi perusahaan tetapi lebih memikirkan bagaimana produk ini akan unggul dari segi keamanan bagi konsumen, yaitu bayi. Aku menatapnya lekat-lekat. Bisa ku lihat dari matanya, presentasi itu dibawakannya dengan penuh kasih. Bukan sekedar dengan beban target dan komentar dari progress yang sudah kita jalankan. Dari situ aku tau, dia orang yang benar-benar penuh dengan kasih sayang. Seorang wanita utuh yang pantas untuk berubah status menjadi seorang istri. Mungkin. Mungkin bagiku.
Meeting berakhir dengan kesimpulan perusahaan kami setuju untuk me-launching produk baru yang tadi dipresentasikan si anak baru. Dan sesuai dugaan, begitu ia menyelesaikan kalimat penutupnya, seluruh peserta meeting serempak bertepuk tangan sambil tersenyum puas. Hanya aku yang masih terpana memandanginya, seolah terhipnotis. Waw, anak baru itu benar-benar suatu keajaiban.
Sambil berjalan keluar ruangan, tanpa sengaja aku melihat si anak baru. Dia menoleh ke arahku, melempar senyuman manis. Tunggu, atau jangan-jangan senyum itu tertuju pada kemeja tanpa dasi??
***
26 Februari 2011
_ rin & rin _
Recent Comments